1.1 latar belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran penting dalam kurikulum sekolah dasar karena berperan dalam membentuk pemahaman siswa tentang fenomena alam dan lingkungan sekitar. Namun, pembelajaran IPA seringkali dihadapkan pada tantangan, salah satunya adalah adanya miskonsepsi atau pemahaman yang salah di kalangan siswa. Miskonsepsi ini tidak hanya menghambat proses belajar, tetapi juga dapat bertahan hingga dewasa jika tidak segera dikoreksi. Oleh karena itu, memahami dan mengatasi miskonsepsi IPA menjadi hal yang krusial untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains di tingkat dasar.
Miskonsepsi dalam pembelajaran IPA dapat muncul dari berbagai faktor, seperti pemahaman awal siswa yang keliru, metode pengajaran yang kurang efektif, atau bahan ajar yang tidak sesuai dengan tingkat kognitif siswa. Misalnya, banyak siswa sekolah dasar yang masih menganggap bahwa semua benda yang terapung di air pasti ringan, tanpa memahami konsep massa jenis. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa miskonsepsi semacam ini seringkali diabaikan oleh guru karena fokus pada pencapaian target kurikulum. Akibatnya, siswa tidak hanya kesulitan memahami konsep-konsep IPA yang lebih kompleks, tetapi juga kehilangan minat terhadap sains.
Makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi umum dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar serta mengeksplorasi strategi efektif untuk mengatasinya. Dengan memahami akar penyebab miskonsepsi dan menerapkan pendekatan pembelajaran yang tepat, diharapkan siswa dapat membangun pemahaman yang lebih akurat tentang konsep-konsep IPA. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan berbasis pemahaman, sehingga mendorong minat dan prestasi siswa dalam bidang sains. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga bagi guru dan pembuat kebijakan pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di Indonesia.
1.2 rumusan masalah
1.3 tujuan
Sumber:
Miskonsepsi berasal dari dua kata yaitu miss dan concept, miss artinya hilang dan concept berati konsep atau makna tentang suatu hal. Miskonsepsi dipandang sebagai pengertian yang tidak akurat mengenai konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contohcontoh yang salah, kekacauan konsepkonsep yang berbeda, dan hubungan hierarkis konsep-konsep yang tidak benar (Suparno, 2005).
Adapun bentuk miskonsepsi dapat berupa kesalahan konsep awal, kesalahan dalam menghubungkan berbagai konsep, dan gagasan yang salah. Adanya miskonsepsi haruslah menjadi perhatian bagi para guru, hal ini dikarenakan miskonsepsi dapat berdampak pada keberhasilan siswa dalam belajar IPA (kutipan sumber).